Single header

Cinta TBIG untuk Batik Indonesia

Berbicara tentang warisan dunia mungkin tidak ada habisnya. Dalam upaya melestarikannya, kita berhak untuk mengukuhkan pengakuan kepemilikan dan keistimewaan dari dunia. Salah satu warisan dunia yang telah diakui United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2 Oktober 2009 adalah batik, seni membuat corak atau gambar (terutama dengan tangan) yang mencerminkan kebudayaan daerah, dengan menerapkan malam (lilin) pada kain serta menggunakan canting atau cap.

Semangat pelestarian kesenian batik memicu insan-insan kreatif mengkreasikan batik yang inovatif. Melihat fenomena tersebut, sebagai wujud komitmen tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) TBiG di bidang budaya yaitu Bangun Budaya Bersama maka TBiG mengajak insan kreatif untuk menggali potensi dalam sebuah kompetisi. TBiG menyelenggarakan Lomba Desain Batik TBiG sebagai bentuk kontribusi pelestarian budaya batik. Tentunya, dengan partisipasi masyarakat pula, gerakan pelestarian batik ini bisa berjalan sesuai harapan bersama.

Lomba Desain Batik TBIG berlangsung sejak 10 April hingga 10 Mei 2013 dari berbagai daerah seperti Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua, yang berasal dari kalangan pelajar, masyarakat umum, serta pengrajin batik. TBiG berupaya menjaring minat peserta melalui berbagai promosi mengenai Lomba Desain Batik TBiG yang dilakukan melalui pembagian sketchbook di berbagai universitas dan komunitas seni di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan social media seperti Facebook dan Twitter. 

Sebanyak 182 karya telah masuk ke meja panitia dan selanjutnya akan melalui proses seleksi dewan juri. “Kami sangat senang dengan antusiasme para peserta dalam Lomba Desain Batik TBiG ini. Tim juri harus bekerja keras untuk memilih 10 orang finalis, sampai pada penentuan pemenang. Tingkat kreativitas peserta sangat mengagumkan.” Ujar Herman Setya Budi, President Direktur TBiG.

Melalui seleksi ketat sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dewan juri, maka pada hari Rabu (22/5) di umumkan para pemenang Lomba Desain Batik di La Codefin, Kemang, Jakarta.  4 kriteria penilaian utama yang dijadikan pertimbangan dalam lomba ini mencakup Kreativitas (creativity) atau tingkat inovasi yang diaplikasikan dalam karya, Originalitas (originality), filosofi (Philosophy),  motif (Pattern). Akhirnya dewan juri memutuskan pemenang dari kompetisi ini adalah  Sukriyadi dari Semarang dan berhasil mendapatkan Macbook Pro 13”.

Filosofi yang ingin dituangkan Sukriyadi dari motif karya yang terbentuk dari pengembangan logo TBIG yaitu penambahan  konsep  bunga, matahari, awan, dan ombak. Bunga melambangkan bahwa TBiG akan terus berkembang dalam skala nasional dan Internasional. Bunga juga melambangkan pertumbuhan, optimisme, dan mampu memberikan manfaat positif bagi masyarakat. Logo yang diletakkan di atas bersebelahan dengan awan melambangkan TBIG sebagai matahari sumber kehidupan dan energy. Awan dan ombak melambangkan produk perusahaan dapat menembus kejayaan. Pengulangan pattern emas logo TBiG adalah harapan bahwa perusahaan akan menjadi perusahaan yang besar.

Wiyanna, Corporate Communications Manager TBiG  menambahkan “Gagasan mengadakan Lomba Desain Batik dengan ide dasar logo dan brand value sebuah korporasi adalah hal baru di Indonesia. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan promosi batik di kalangan korporasi serta menciptakan tren baru di kalangan korporasi untuk membuat desain masing-masing sebagai identitas perusahaan disamping logo perusahaan.”

Dewan juri yang bertindak dalam seleksi ini adalah Wiyanna Corporate Communications Manager PT Tower Bersama Infrastructure, Tbk;  Asmoro Damais pakar Batik sekaligus pemilik Galeri Batik Akik; Poppy Savitri Sekretaris Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain, dan Iptek;  Tumbu Ramelan kolektor batik dari Yayasan Batik Indonesia sekaligus Kepala National Batik Gallery; Caroline F. Sunarko praktisi dan dosen desain kreatif dan visual (DKV) di beberapa perguruan tinggi Indonesia.

Seragam yang dibuat berdasarkan motif dari hasil karya pemenang akan diproduksi di Rumah Batik TBiG yang terletak di Desa Wiradesa, Pekalongan dengan menggunakan teknik cap. Karena teknik cap masih menggunakan malam (lilin) yang merupakan ciri khas dari budaya batik. Rumah Batik TBiG memberikan pelatihan kepada para pengrajin batik agar dapat menghasilkan karya yang mudah dipasarkan (marketable) dan melatih jiwa kewirausahaan melalui wadah Koperasi.