Single header

Tower Bersama Infrastructure Tbk Mengumumkan Kinerja Keuangan Triwulan Ketiga 2011

JAKARTA, 24 Oktober 2011 - PT Tower Bersama Infrastructure, Tbk. ("TBIG") hari ini mengumumkan laporan keuangan interim periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011.

Ikhtisar Keuangan dan Indikator Operasional
TBIG berhasil mencatat pendapatan dan EBITDA masing-masing sebesar Rp 689,00 miliar dan Rp 541,23 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011. Pendapatan meningkat 45,2% dan EBITDA meningkat 49,0% jika dibandingkan dengan periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Jika triwulan ketiga ini disetahunkan (current quarter annualized basis), maka total pendapatan Perseroan mencapai Rp 994,02 miliar, atau meningkat 48,1% dibanding periode penuh tahun 2010 dan EBITDA mencapai Rp785,98 miliar, atau meningkat 53,3% dibanding periode penuh tahun 2010.

Total hutang kotor (gross debt) pada tanggal 30 September 2011 adalah Rp 3.094,50 miliar sedangkan saldo kas mencapai Rp 384,34 miliar, sehingga jumlah hutang bersih Perseroan adalah Rp 2.710,16 miliar. Oleh karena itu, rasio hutang bersih terhadap EBITDA triwulan ketiga yang disetahunkan adalah 3,4x. Rasio ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan rasio yang menjadi persyaratan dalam perjanjian pinjaman Perseroan yaitu 4,5x.

TBIG memiliki 6.409 penyewaan dan 4.508 site telekomunikasi per 30 September 2011. Site telekomunikasi ini terdiri dari 3.058 menara telekomunikasi, 1.040 site shelter-only, dan 410 jaringan DAS. Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 4.959, maka rasio kolokasi (tenancy ratios) Perseroan adalah 1,62.

Moody’s Rating
Pada tanggal 14 Oktober 2011, Moody's memberikan peringkat Ba2 (Corporate Family Rating) kepada TBIG. Ini adalah pertama kalinya Moody’s memberikan peringkat kepada TBIG. Melalui siaran pers yang dikeluarkan oleh Moody’s, Laura Acres, Vice President dan Senior Credit Officer Moody's menyatakan bahwa, “Peringkat Ba2 ini mencerminkan model bisnis pokok TBIG yang didukung oleh pendapatan dengan kontrak yang bersifat jangka panjang dan tidak bisa dibatalkan selama periode rata-rata 10 tahun dan juga jasa layanan krusial yang diberikan Perseroan kepada para penyewa.” Acres menambahkan bahwa “basis penyewaan TBIG terdiri dari operator-operator telekomunikasi terbesar di Indonesia seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

"Pertumbuhan pendapatan dan EBITDA yang luar biasa ini disebabkan oleh peningkatan jumlah penyelesaian build-to-suit oleh Perseroan dan dampak positif dari akusisi PT Mitrayasa Sarana Informasi (“Infratel”). Penyelesaian akuisisi Infratel dilakukan pada tanggal 9 Agustus 2011 sehingga selama triwulan ketiga ini, pendapatan dan EBITDA Infratel yang tercatat adalah angka yang berlangsung kurang dari dua bulan. Pendapatan dan EBITDA yang berasal dari Infratel akan sepenuhnya tercermin pada kinerja keuangan triwulan keempat. Kami telah menambahkan 1.028 penyewaan selama triwulan ketiga tahun 2011, dan ini merupakan triwulan yang terbaik selama ini karena berhasil menambahkan penyewaan sebanyak 19% yang dicapai hanya dalam waktu satu triwulan saja. Pencapaian kami selama ini dan kebijakan manajemen kami yang tepat dan  cermat, telah diakui oleh lembaga pemeringkat internasional, yakni Fitch dan Moody’s yang masing-masing telah memberikan peringkat BB dan Ba2 kepada Perseroan. Pencapaian ini mencerminkan keseriusan kami untuk menjadi perusahaan dengan kualitas tertinggi di industri ini”, jelas Helmy Yusman Santoso, Direktur Keuangan TBIG.