Single header

Tower Bersama Infrastructure's Q1 2011 Financial Performance

JAKARTA, 2 MEI 2011 - PT Tower Bersama Infrastructure, Tbk. ("TBIG") hari ini menerbitkan laporan keuangan interim untuk triwulan pertama yang berakhir 31 Maret 2011.

Ikhtisar Keuangan dan Indikator Operasional
Selama triwulan pertama tahun 2011, TBIG berhasil mencatat pendapatan dan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) masing-masing sebesar Rp213,9 miliar dan Rp166,7 miliar. Jika disetahunkan (annualized basis) total pendapatan konsolidasi tahun 2011 akan mencapai Rp 855,9 miliar atau meningkat 27% dari tahun 2010. Demikian juga EBITDA tahun 2011 diperkirakan akan mencapai Rp666,8 miliar, meningkat 30% dibandingkan dengan EBITDA konsolidasi 2010. Total hutang (gross debt) per tanggal 31 Maret 2011 adalah Rp2.316,7 miliar sedangkan saldo kas Rp889,9 miliar, sehingga jumlah hutang bersih Perseroan menjadi Rp1.426,9 miliar. Apabila disetahunkan maka rasio hutang bersih terhadap EBITDA adalah 2,1x. Rasio hutang bersih terhadap EBITDA ini lebih rendah jika dibandingkan dengan rasio yang disyaratkan dalam perjanjian pinjaman Perseroan. Per 31 Maret 2011, TBIG telah memiliki 5.085 penyewaan dan 3.370 site telekomunikasi . Site telekomunikasi milik Perseroan yang terdiri dari 2.254 menara telekomunikasi, 706 shelter-only dan 410 jaringan DAS. Dengan total penyewa menara sebanyak 3.969 tersebut menjadikan rasio kolokasi (tenancy ratios) menjadi 1,76. Pada akhir Desember 2010, TBIG memiliki 4.729 penyewa dan telah bertambah sebanyak 356 penyewa baru selama triwulan pertama tahun 2011. Rasio kolokasi sedikit menurun dari 1,80 dibandingkan pada akhir 2010 karena penambahan menara telekomunikasi baru (build-to-suite) lebih banyak dibanding penambahan kolokasi pada menara yang sudah ada (existing sites). "Dengan pertumbuhan usaha lebih dari 130%
dibandingkan dengan triwulan pertama 2010 kami sangat optimis dengan kinerja TBIG kedepannya. Jumlah penyewa telah bertambah lebih dari 350 penyewa selama triwulan pertama disamping jumlah pesanan yang saat ini sedang dalam proses
pembangunan. Kinerja ini memberikan keyakinan bahwa kami telah on track dalam mengeksekusistrategi pertumbuhan tahun ini", kata Helmy Yusman Santoso, Chief Financial Officer. "Sebelumnya kami telah menandatangani program pinjaman baru pada bulan September 2010, dan menarik seri pertama pada bulan November 2010. Manfaat dari progam ini akan tercermin dalam kinerja keuangan kami pada kuartal ini dan seterusnya. Beban bunga kuartal ini adalah Rp48.7 miliar dari total pinjaman sebesar Rp2.316,7 miliar, atau ekuivalen dengan biaya bunga sebesar 8,4% per tahun. Angka ini mencerminkan penurunan biaya bunga yang relatif tinggi dibandingkan tahun 2010, dan lagipula kami telah melakukan lindung nilai (hedging) atas seluruh pinjaman baik terhadap risiko kurs maupun kenaikan suku bunga. Pada saat yang sama, posisi keuangan kami semakin sehat yang tercermin dari rendahnya rasio net debt terhadap EBITDA. Perseroan juga telah mendapatkan credit rating internasional "BB" oleh Fitch Ratings ", tambah Helmy.